Perjalanan 2.5 Tahun Setelah Bekerja di Kontraktor

Dulu pas SMA gue pengin banget jadi penulis, makannya sering banget ikut lomba tulis-menulis, yang paling awal banget itu gue pernah ikut lomba yang diadakan Fabercastel dan jurinya adalah Raditya Dika. Beranjak dewasa keinginan gue sering berubah-ubah dan kemudian menjatuhkan pilihan untuk menekuni bidang yang awalnya gue anggap itu super awam. Kalau mungkin ada salah satu dari elo yang baru baca, sebagian cerita kehidupan gue sudah tertuang di postingan-postingan lain seperti (read: Mau masuk Jurusan Teknik Sipil tapi Basic kamu jauh berbeda?). 

Akhir-akhir ini gue makin sering baca buku khususnya setiap pagi pas baru masuk kantor, sebelum Taisho (senam pagi dan bagi yang kerja di Kontraktor pasti sudah tau) gue selalu nyempetin waktu buat baca buku entah itu 5, 10, atau 20 lembar. Dari beberapa buku yang gue baca, ada satu buku judulnya Sapiens; Riwayat Singkat Umat Manusia. Mungkin beberapa dari elo udah pada baca buku ini, karena memang buku ini cukup "happening" di Negara +62. Buku itu bukan cuma bahas tentang revolusi manusia secara fisik dan pikiran, tapi di dalamnya juga sesekali ngebahas tentang keresahan si Penulis tentang makna kehidupan saat ini, dan kebetulan keresahan itu juga gue rasakan.

Buku Sapiens; Riwayat Singkat Umat Manusia
Salah satu keresahan yang ditulis di buku itu adalah hidup yang makin ga jelas, apa yang mau dituju dan dicapai. Dulu untuk mengirimkan pesan ke suatu daerah yang jauh dari tempat saat ini, dibutuhkan kecerdasan pikiran untuk menyampaikan pesan yang ingin disampaikan dalam lembaran kertas. Supaya tidak ada pesan yang terlewatkan, penulis selalu berhati-hati dalam bertutur dalam setiap kata dan kalimat, lalu membacanya berulang kali sebelum surat tersebut masuk ke dalam kotak pos. Kemudian surat yang dengan kehati-hatian saat ditulis tersebut akan diterima beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan kemudian.

Berbeda jauh dengan saat ini, bahkan untuk hal-hal yang sangat tidak penting pun, banyak diantara kita tidak pernah berfikir panjang untuk mengetik dan mengirimnya kepada orang lain dalam hitungan detik, dan pesan tidak penting itupun sudah diterima oleh orang yang dituju.

Meskipun saat itu butuh waktu berminggu-minggu untuk saling bertukar kabar, namun ketika surat tersebut tiba, hampir dapat dipastikan bahwa pesan itu pasti dibaca dan kemudian dibalas oleh penerima. Berbeda juga dengan saat ini, meskipun bisa saling bertukar kabar dalam hitungan detik, sudah ada berapa banyak pesan singkat, chat whatsapp, line, hangout, imessages tanpa poin dan urgensi yang tidak sempat terbaca? atau bahkan sengaja untuk tidak dibaca?.

Setelah 2.5 tahun gue kerja, banyak hal yang gue dapet dan bukan hanya sekadar materi. Ketemu dengan orang-orang dengan berbagai macam agama, suku, latar belakang, isi kepala dsb. Ga jarang juga beradu argumen bahkan dengan senior sendiri.

Apakah gue bahagia?

Entahlah, namun sampai saat ini gue masih belum ngerasa ada sesuatu yang berarti.

Apakah hidup hanya untuk beradu argumen antara sesama pegawai? atau antara anak buah dengan senior? atau untuk materi?

Berlangganan via email

1 comment

  1. Tertarik dengan buku Sapiens nya, versi ebook ada ga yah??

    ReplyDelete


Top