Rasanya Kerja di Kontraktor

Udah hampir 2 minggu saya ga update blog ini, bukan karena sibuk dengan kerjaan tapi jujur karena bingung mau nulis apaan. Tapi saya sudah berikrar juga kalau saya akan meng-update blog ini selambat-lambatnya hanya 2 minggu. Ide tuh mirip kayak temen, suka dateng terlambat. But, its better late than never

Dulu sejak pertama saya kuliah di Teknik Sipil Universitas Negeri Malang di tahun 2013, saya suka bingung kalau lulus mending kerja di Kontraktor atau di Konsultan (entah konsultan apapun itu, mau konsultan desain, struktural, atau yang lain terserah). Dan kemudian setelah lulus dari universitas takdir ternyata membawa saya untuk kerja di Kontraktor. 
via: www.youtube.com/88rising
Kalau dilihat dari jejak pendidikan, saya ini gaada pantes-pantesnya kerja di kontraktor karena: (1) basic saya bukan dari teknik sipil melainkan basic saya itu dari informasi dan teknologi a.k.a teknik komputer jaringan (bisa dibaca di sini: Mau masuk Jurusan Teknik Sipil tapi Basic kamu jauh berbeda?), (2) nilai saya di kampus juga ga bagus kalau dilihat dari IPK karena nilai saya cuma 3.23, (3) saya ga punya spesialis di bidang teknik sipil (itung-itungan saya ga suka, gambar-pun juga ga suka) mungkin saya hanya punya sedikit ketertarikan di metode pelaksanaan konstruksi saja dan itupun tidak semua metode konstruksi saya sukai contoh; saya suka metode konstruksi gedung, tapi saya ga suka metode konstruksi jembatan dan fly-over. Pun di gedung saya lebih suka kerjaan eksternal daripada internal contoh; saya lebih suka kerjaan yang hubungannya sama drainase daripada kerjaan pasang ceiling (langit-langit). Membosankan.

Cita-cita anak mahasiswa teknik sipil itu sudah bisa dipastikan sejak dini, menurut riset ngawur saya anak sipil itu cita-citanya; (32% wirausaha, 7% kerja di konsultan, 8% kerja di bank, dan 53% kerja di kontraktor). Riset ngawur saya di atas dapat berubah sewaktu-waktu dan tergantung dari tingkatan stress mahasiswa sipil yang bersangkutan ketika sudah bekerja di salah satu kategori perusahaan-perusahaan tersebut. Bisa jadi berubah seperti ini: (50% wirausaha, 10% kerja di konsultan, 12% kerja di bank, dan 28% kerja di kontraktor). 

Dari presentase di atas dapat disimpulkan bahwa, wirausaha mengalami kenaikan presentase dan menjadi pekerjaan idaman para mantan mahasiswa teknik sipil yang sudah menjadi karyawan di sebuah perusahaan kontraktor dan kemudian resign karena berbagai macam alasan seperti; udah males kerja panas-panasan, banyak pengaruh buruk, dilanda rindu karena kerja jauh dari keluarga, pengin dapet kerjaan baru yang sabtu dan minggu bisa libur, pengin dapet kerjaan baru yang jadwal pulang kerjanya teratur.

"Nah Terus kamu masuk golongan yang mana?" Katamu

Saya adalah orang yang sangat bersyukur bisa bekerja linear dengan jurusan kuliah saya. Banyak hal-hal yang dulu selama kuliah tidak saya ketahui bisa menjadi tahu bahkan bisa sampai mengerti. Banyak hal-hal yang saya pelajari dari nol di perusahaan ini, banyak teman-teman baru, lingkungan yang selalu baru dan jujur memang cita-cita saya sejak kecil adalah bekerja di kontraktor. Saya masuk dalam kategori tersebut. Namun, apakah lantas saya bahagia sepenuhnya?

Ya! saya bahagia, dan saya sangat bahagia! bisa bekerja di perusahaan yang saya impikan memang merupakan sebuah mimpi yang menjadi nyata bagi saya. Namun, ada satu poin dimana saya sedikit tidak menyukai ketika bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan konstruksi yang paling utama adalah karena bekerja jauh dari keluarga.

Yap! apapun itu, keluarga bagi saya adalah yang paling nomor satu. Mungkin sedikit kedengaran cengeng bagi anak cowok dan agak klise namun fakta dan jujur dalam hati saya adalah keluarga merupakan prioritas saya. Bagi saya ada banyak sekali perusahaan di luar sana, namun keluarga hanya ada satu. Meskipun saya masih belum berkeluarga, namun saya punya orang tua dan dua saudara saya yang entah kenapa sangat sulit sekali untuk tidak bertemu dengan mereka dalam waktu yang sangat lama.

Keluarga adalah Prioritas.

Berlangganan via email

1 comment


Top