Teknik Sipil Vs Arsitektur - Dua Penopang Utama Proyek Konstruksi

Membahas tentang mana yang lebih unggul antara Engineer/Pelaksana dengan Arsitek tidak akan pernah ada habisnya, terlebih lagi bagi Mahasiswa Sastra orang awam yang membahas keduanya itu ibarat membandingkan jahe dengan lengkuas dari segi penampilan tanpa tahu rasanya. Serupa tapi tak sama. Perdebatan antara teknik sipil vs arsitektur ini sudah ada dan terus berlanjut sejak jaman Fir'aun  dari yang dulunya masih maen Tamagotchi sampai Fir'aun udah maen Mobile Legends ya teman-teman. Banyak orang di luaran sana yang hanya mengenal Arsitek tanpa sedikitpun mengetahui pelaksana konstruksinya, banyak pula di luaran sana yang menganggap bahwa arsitek lebih ke imajinasi, dan engineer lebih ke perhitungan strukturalnya. Benarkah demikian?
Teknik Sipil Vs Arsitektur - Dua Penopang Utama Proyek Konstruksi
via: cdn.meme.am
Sebelumnya mari kita baca dulu pengertian teknik sipil dan arsitektur agar tidak menjadi rancu sebelum saya bedah satu persatu dari sudut pandang saya. Simpelnya, Teknik Sipil adalah ilmu pengetahuan yang mencakup tentang bagaimana cara merancang metode yang akan digunakan pada saat proses konstruksi kemudian melaksanakan konstruksi tersebut dengan metode yang telah direncanakan sebelumnya hingga proses maintenance-nya di kemudian hari. Sedangkan Arsitektur merupakan ilmu yang digunakan untuk merencanakan sebuah bangunan/infrastruktur sekaligus membuat agar sebuah bangunan/infrastruktur yang akan/sedang dibangun tersebut memiliki nilai guna dan estetika yang tinggi.

Dari dua pengertian di atas maka bisa disimpulkan bahwa teknik sipil dan arsitek itu mempunyai peranan yang berbeda di dunia konstruksi. Di kontraktor, scope teknik sipil merujuk kepada sisi struktural&arsitektural tetapi dari segi pelaksanaan konstruksi yang dilaksanakan oleh Engineer/Pelaksana (eksekutor), sedangkan arsitektur yang dilatar belakangi oleh seorang arsitek juga menjurus kepada arsitektural&struktural namun dari segi desain bangunan tersebut (konseptor).

Terkadang saya juga sering cekikikan sendiri sih di kantor kalau lagi baca-baca Blog orang terus di dalamnya tertulis; Arsitek itu lebih ke imajinasi, sedangkan Teknik Sipil itu lebih mengarah ke perhitungan. Duh, ini udah 2017 loh teman-teman, masak masih mau aja membatasi diri dengan sekat-sekat yang semacam itu. Menurut saya pandangan/pendapat seperti itu mulai saat ini perlu sedikit diluruskan karena, pada kenyataan di lapangan (kontraktor) baik Arsitek maupun Engineer itu harus memiliki 2 kemampuan tersebut. Mengapa?

1. Engineer dan Arsitek harus memiliki imajinasi yang tinggi


Teknik Sipil Vs Arsitektur - Dua Penopang Utama Proyek Konstruksi
via: www.huffpost.com
1.a Engineer harus memiliki imajinasi yang tinggi karena, Engineer harus bisa memahami serta menganalisis gambar shop drawing yang telah mendapatkan approval (For Construction) apakah nantinya bisa dilaksanakan di lapangan atau tidak sebelum dilakukan konstruksi. Hal tersebut dilakukan agar nantinya tidak terjadi bongkar/bobok pasang pekerjaan yang mana hal tersebut sangat-sangat berhubungan dengan limit waktu dan project cost.

1.b Arsitek harus memiliki imajinasi yang tinggi karena, Arsitek harus mampu membayangkan segala detail yang ada pada objek yang sudah terkonsep. Ibarat rumah tinggal, Arsitek adalah pemiliknya yang tinggal di dalamnya selama puluhan tahun. Jadi Arsitek harus tahu dimana letak dapurnya, sink-nya, kamar tidurnya, ruang makannya, ruang tamunya, bentuk atapnya seperti apa, skirting-nya dengan pola yang bagaimana, dsb.

2. Engineer dan Arsitek harus memiliki kemampuan berhitung yang mumpuni


Teknik Sipil Vs Arsitektur - Dua Penopang Utama Proyek Konstruksi
via: www.static.vecteezy.com
2.a Meskipun nantinya kamu masuk dalam dunia kontraktor, namun apabila kamu duduk di posisi engineer atau pelaksana, maka mahir berhitung sudah merupakan kebutuhan. Perhitungan taktis dan simpel di luar kepala pada saat proses konstruksi sangatlah penting agar dapat mengambil keputusan secepat mungkin. Apabila gambar yang sudah diyakini dapat dilaksanakan, namun pada saat gambar tersebut dieksekusi dilapangan namun hanya setengah jalan dan terdapat keanehan, maka dapat dihentikan langsung saat itu juga dan harus kembali ke kantor untuk meminta kejelasan dengan person in charge di shop drawing tim. Karena apabila proses konstruksi dilanjutkan tanpa mengetahui dampak yang diakibatkan, maka hal tersebut hanya buang-buang waktu semata.

2b. Arsitek harus memiliki kemampuan berhitung yang mumpuni karena, pekerjaan arsitek mencakup perencanaan sebuah bangunan yang sangat berhubungan dimensi/angka. Perhitungan teknik sangat diperlukan untuk menyelesaikan perencanaan dan permasalahan yang mungkin terjadi di lapangan. Contoh sederhananya adalah sloping/kemiringan dan levelling lantai atau jalan.
Teknik Sipil Vs Arsitektur - Dua Penopang Utama Proyek Konstruksi
Slope dan levelling lantai
Dengan jarak 6,600 dan level titik awal -149 maka diujung titik 6,600 levelnya adalah : ((1.83/100)x(-6,600))-149 = -270. Untuk perhitungan persentase kemiringan atau slope dapat digunakan perhitungan ini: ((270-149)/(6,600))x100 = 1.83%. Perhitungan teknik semacam ini seharusnya sudah menjadi makanan sehari-hari bagi seorang Arsitek. Belum lagi perhitungan yang lebih kompleks seperti debit air, pencahayaan lampu, kebutuhan air bersih, volume penampung air hujan, dsb. Jadi, dengan sedemikian kompleksnya pekerjaan konstruksi, maka arsitek sebagai perencana maka sangat perlu untuk memiliki kemampuan berhitung yang mumpuni.

Dalam sebuah proyek konstruksi, penopang keilmuan utamanya adalah Teknik Sipil dan Arsitektur. Komparasi antara keduanya bisa jadi nihil karena keduanya memiliki latar belakang yang berbeda tapi mirip namun saling membutuhkan. Engineer membutuhkan desain dan konsep dasar pelaksanaan, sementara Arsitek butuh bangunan yang telah terkonsep agar segera terealisasikan.

Pandangan bahwa keahlian Arsitek hanya sebatas imajinasi sangat perlu dihapuskan karena memang pada dasarnya, kompetensi seorang Arsitek yang telah saya kutip dari www.iai.or.id di dunia proyek konstruksi ternyata sangatlah universal, bahkan beberapa diantaranya sudah menyerupai kompetensi seorang Engineer seperti:

1. Pemahaman mengenai permasalahan struktural, konstruksi, dan rekayasa.
2. Pemahaman mengenai fisik dan fisika bangunan.
3. Pemahaman mengenai batas anggaran.
4. Pemahaman mengenai manajemen proyek konstruksi.

Pun dari yang saya amati di lapangan Kompetensi Engineer juga hampir sesuai dengan keahlian yang dimiliki seorang arsitek seperti:

1. Pemahaman mengenai perancangan arsitektur.
2. Pemahaman mengenai pengetahuan arsitektur.
3. Pemahaman mengenai peran arsitek dalam masyarakat.
4. Pemahaman mengenai seni.

Dari jajaran kompetensi di atas nampak bahwa makin kesini, keduanya menunjukkan banyak kesamaan dari segi kompetensi, mungkin dapat diprediksi dalam beberapa tahun mendatang sudah tidak ada lagi yang namanya perseteruan dan perdebatan yang berarti antara departemen konstruksi dengan departemen desain karena perbedaan opini seperti; Arsitek menginginkan material yang saperti A dengan tekstur yang seperti B. Namun, Engineer tidak menginginkan hal tersebut karena materialnya mahal.

Kesimpulannya, Teknik Sipil tidak bisa dibandingkan dengan Arsitektur karena keduanya merupakan disiplin ilmu yang berbeda, dari segi orang yang menggunakan keilmuan tersebut seperti Engineer yang menggunakan ilmu teknik sipil dan seorang arsitek yang menggunakan keilmuan arsitektur juga tidak bisa dibandingkan karena keduanya semakin kesini semakin menunjukkan kemiripan walaupun masih belum secara utuh. Sinergi yang paling nampak jelas di dunia konstruksi adalah kedua hal tersebut. Apabila salah satu lemah atau kurang kompak, maka proyek juga akan merasakan imbasnya. Jadi, Engineer dan Arsitek harus tetap berdiri tegap dalam posisi dan porsi pekerjaannya masing-masing, menghadapi masalah yang datang, dan menyambut sesuatu yang indah didepan, bersama-sama.

Berlangganan via email

2 comments

  1. oke, skr aku mulai nangkap perbedaannya.. Utk kuliah jurusan ini hrs kuat dalam hitung2an.. Ini nih yg bikin aku mundur teratur utk kuliah di 2 jurusan ini :D. Otakku memang lbh kuat ke jurusan sosial sih mas :D.

    Tapi sbnrnya aku lbh penasaran gimana cara membuat bangunan2 , jalan layang, rel mrt dll nya itu bisa ttp simetris saat dibangun :D. Perhitungannya hrs sekuat apa ya itu..

    ReplyDelete
  2. benar. sebagai mahasiswa arsitektur yg pernah magang, imajinasi dan kemampuan hitung arsitek harus sejalan. apalagi dalam kerjasama dengan engineer sipil. seringkali dijumpai, desain yg sangat bagus dari arsitek membuat orang sipil bingung dgn strukturnya. bagus memang di kalangan profesional yg menanggung proyek besar, karena pengalaman berbagai bentuk pembebanan. tapi dalam level medium ke bawah, arsitek harus tau pembebanannya tidak hanya mempertimbangkan estetika saja.

    ReplyDelete


Top