Manis Getir Introvert dan Apakah dia adalah Karakter Diri Terbaik?

Sudah menjadi istilah yang umum banget sih menurut saya, introvert adalah julukan atau istilah lain bagi sosok/seseorang yang lebih suka menutup diri dari orang sekitar, atau bisa juga diartikan sebagai orang yang tertutup dan pendiam.

Kalau diibaratkan kesebelasan tim sepakbola, introvert ini posisinya penjaga gawang alias kiper, sedangkan ekstrovert adalah ujung tombak alias striker, dan ambivert adalah sisanya. Jadi sudah cukup keliatan nih komposisi yang paling banyak memakan tempat di lingkungan kita saat ini yaa (menurut saya).

Di kehidupan sehari-harinya, introvert ini doyan banget menyendiri, ga ada omong (bukan ga pernah ngomong sama sekali, tetapi dia cuma ngomong seperlunya dengan orang yang ga terlalu deket dengan dia), dan susah menyesuaikan diri di lingkungan baru, bahkan di lingkungan yang sudah di-naungi bertahun-tahun-pun bisa jadi si introvert ini kesusahan untuk berbaur dengan orang-orang sekitar. Sungguh berbanding 180 derajat memang dibandingkan ekstrovert dan ambivert.

Emangnya Introvert Ga Boleh Bahagia?

Terhitung sudah sejak duduk di bangku kuliah semester 5, saya telah mengabdikan diri sebagai seorang introvert, dan saya cukup bangga dengan titel tersebut. Namun entahlah, menurut sudut pandang dan kacamata teman-teman saya.

"Nah sebelum semester 5, kamu masuk golongan yang mana?" Katamu.

"It's been a long long day, Son" Jawabku. 

Bagi sebagian introvert di luar sana, ada yang memiliki perasaan yang sama dengan saya (stand with pride), dan ada pula yang perasaannya berbanding 180 derajat dengan saya; tekanan batin alias mental pressure. Memang sih, tidak mudah juga memiliki kepribadian seperti ini, sindiran demi sindiran kerap kali kita dapatkan di lingkungan terdekat kita, ambil saja contohnya dari teman sekolah/kantor kita sendiri.

"Makan sendirian mulu, De. Emang kalo elu mati bakalan ngubur sendiri?"

Ini padahal saya lagi makan biar engga mati loh, tapi malah disumpahin.

Beruntungnya saya ini anak yang sedikit jaim dan susah ngata-ngatain orang. Jadi, demi citra apik yang telah saya pupuk sejak dini, maka saya memutuskan untuk tidak menanggapi perkataan mereka.

Bagi introvert, hal-hal berikut ini akan terasa aneh, terlebih lagi apabila kegiatan tersebut dilakukan secara intens:

1. Jalan-jalan, nongkrong bareng temen kampus/rekan kerja.

Menurut apa yang saya rasakan, mungkin introvert adalah kepribadian/sifat yang aneh. Kita jauh lebih enjoy sendirian/ kumpul dengan beberapa teman dekat/pacar daripada harus berbondong-bondong dengan sekumpulan orang dan pada akhirnya kita akan diam tidak berguna. Namun, segala kemungkinan pasti ada, apabila kita sedang ada di masa-masa kuliah atau kerja, pastilah teman-teman/rekan kerja kita setidaknya pernah sesekali ngajakin acara kumpul-kumpul, makan-makan, nonton, atau hanya sekedar nongkrong, minum kopi.


Sisi positif dari diri saya yang cukup saya sadari ini adalah apabila ada ajakan dari teman-teman yang mengajak saya nongkrong mayoritas saya iya-kan. Meskipun saya juga sangatlah sadar apa yang akan saya lakukan ketika menghadiri acara tersebut. Diam. Terus diam, sampe acara kelar. Sesekali ngobrol seperlunya aja, walaupun sesekali terdengar celetukan dari belakang

De, kok diem aja sih?

Dengan polosnya saya jawab tanpa rasa bersalah

Iya, nih.

Berbeda lagi, apabila kumpul dengan beberapa teman dekat, entah 2-3 orang, saya akan merasa sangat senang/lebih hidup. Bisa cerita kesana kemari, sampai bisa ngobrol tentang topik-topik yang jauh lebih dalam daripada berkumpul dengan banyak orang.

Hal di atas bukan hanya sekedar bualan saya lho teman-teman, tapi memang hal tersebut bisa dibuktikan secara nyata kok, mungkin dari teman-teman di sini ada yang punya teman deket yang karakternya introvert banget, pasti akan merasakan hal yang sama dengan yang telah saya utarakan di atas tersebut.

2. Acara kumpul keluarga besar.

Keluarga adalah segalanya, memang benar. Namun, bagi saya ada rasa canggung saya ketika bertemu dengan saudara-saudara sendiri. Entah itu sepupu saya, keponakan saya, dsb. Acara kumpul keluarga besar merupakan tradisi di Indonesia, setidaknya satu tahun sekali pasti ada acara seperti ini. Ambil saja contoh kumpul keluarga ketika Idul Fitri. 

Tanpa memandang ras dan agama lain selain agama islam dan pribumi. Menurut saya, pada momen Idul Fitri ini adalah momen kumpul keluarga bagi seluruh orang di Indonesia (Bukan begitu teman-teman?). Begitu pula keluarga saya, yang non-muslim, namun hampir setiap Idul Fitri pasti menyempatkan untuk berkumpul bersama walaupun berbeda keyakinan. Penderitaan bagi introvert juga ada di sini, bisa ditebak jalan cerita introvert yang soso ikut acara kumpul keluarga:

Ketemu - Salam-salaman - Makan - Main hape - acara selesai - pulang.

Sepintas memang sangat monoton, bukan malah meluangkan waktu dengan keluarga besar, justru introvert lebih memilih kehidupannya sendiri daripada harus bercanda atau hanya sekedar melakukan perbincangan dengan orang-orang yang tidak menjadi "orang dekatnya".


Namun sisi baiknya, saya tidak asal mengacuhkan keluarga besar saya begitu saja, pasti saya masih sempatkan waktu untuk ngobrol sedikit dengan mereka, meskipun "terkadang" hanya sekedar formalitas belaka. 

3. Acara reuni/temu kangen dsb.

Acara reuni/temu kangen juga merupakan salah satu tradisi tahunan lain di Indonesia. Bukan tidak mungkin, tiap tahun pasti ada teman-teman entah dari SD/SMP/SMA/Kuliah bahkan hingga rekan kerja kita dahulu mengajak kita bertemu tahunan/reuni. Reuni bagi sebagian orang merupakan acara yang sangat ditunggu-tunggu untuk meluapkan rasa rindu terhadap kawan lama. Selain itu, menurut dari beberapa sumber menyebutkan bahwa reuni memiliki sisi positif dari segi kesehatan. Kecuali bagi yang punya mantan, ketemu di reuni-an, kamu masih jomblo, dia udah nikah dan punya anak satu. (Muter lagu she's gone).

Orang introvert adalah orang yang cenderung pendiam. Kita tahu bahwa orang pendiam (pendiam yang pasif), adalah orang yang kurang memiliki minat dan pengaruh besar di lingkungan. Begitu pula pada saat reuni tersebut jauh sebelum diadakan, pasti ada tahap perencanaan seperti: kumpul dimana, tanggal berapa, dan siapa aja yang bisa dateng. Poin siapa aja yang bisa dateng inilah yang cukup menyebalkan bagi para introvert.


Ngarepnya beberapa hari sebelum acara ada personal chat dari seorang teman yang nanyain;

De, lu harus ikut reuni ya, ini acara tahunan kita sama anak-anak. Jadi lo harus dateng pokoknya!

atau paling tidak ditanyain gini:

Eh, elu ikut reuni kan?

Namun Nyatanya sms yang masuk seperti ini:

Sisa kuota anda 0kB, harap lakukan pengisian ulang untuk mendapatkan servis internet yang lebih hemat. Dan jangan lupa aktifkan NSP Kangen Band yang berjudul "Beri aku kesempatan" dengan cara ketik SMS, KB (SPASI) BAND Kirim Ke 7997.

Matamu.



Ada potongan kutipan yang cukup bagus pernah diutarakan oleh Carl Gustav Jung "Introvert adalah orang yang terampil menjelajah ke dunia dalam, dunia tersebut adalah dunianya sendiri...". Dari potongan kutipan tersebut dapat disimpulkan bahwa orang yang memiliki karakter diri introvert adalah orang mendalam, dan tidak suka dengan segala sesuatu yang bersifat "tanggung" atau general seperti ekstrovert, jadi ia lebih mampu memahami lebih jauh tentang sesuatu. Namun, adapula dogma yang saya temukan di lapangan yang menyebutkan pula bahwa, ekstrovert adalah karakter diri yang lebih baik daripada introvert. Mungkin karena ekstrovert adalah orang yang lantang di depan orang-orang banyak, mungkin.

Bagi saya, hal tersebut bukan berarti tidak bisa dibenarkan, namun hal tersebut tidak bisa dikatakan 100% benar karena, kita ini hidup di lingkungan sosial dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Ada kalanya kita hidup di lingkungan yang ramai penuh sesak, ada kalanya pula kita hidup di lingkungan yang sepi.

Lingkungan harus benar-benar seimbang karena apabila timpang sebelah, maka segalanya tidak akan pernah bisa berjalan dengan semestinya. Apabila dogma yang menyebutkan bahwa ekstrovert adalah karakter yang lebih baik daripada introvert, dan kita diharuskan merubah diri dari yang sebelumnya adalah introvert menjadi ekstrovert untuk mendapatkan karakter yang lebih baik, maka segala yang ada di lingkungan akan ditempati oleh orang-orang yang memiliki kepribadian yang sama. homogen. Maka sudah pasti, hal tersebut akan mengakibatkan ketimpangan dari segi karakter diri di masyarakat sosial.

Lingkungan harus seimbang, tidak bisa diisi dengan karakter diri yang sama. Lingkungan adalah tentang kebutuhan, ada pemimpin dan ada yang dipimpin, ada pembicara dan ada pendengar. Tidak akan pernah bisa apabila semuanya diharuskan menjadi pemimpin, dan atau semuanya dijadikan pendengar. Jadi, bagi saya tidak ada yang lebih baik antara introvert dan ekstrovert, karena semuanya saling membutuhkan. Ada kalanya seseorang harus menjadi pemimpin dan ada kalanya seseorang juga perlu menjadi pendengar.

Berlangganan via email

0 komentar:

Post a Comment


Top