Pengalaman Menggunakan MacBook Air 13-inch (Early 2015)

Sudah malam, bahkan sudah masuk dini hari dan tepat saat ini aku ngetiknya sambil merem-melek. Sesekali melek, kebanyakan merem. Tahun lalu atau tahun 2017 kemarin, adalah tahun yang bener bener kelam bagiku karena di tahun itu aku jarang banget ngepost. Bukan karena males doang, tapi karena aku gaada perangkat semacam pc/laptop yang bisa ku gunakan untuk menulis sesuatu di blog ini secara intens. Dan kali ini alhamdulillah akhirnya kebeli juga laptop kepunyaan dari Perusahaan besar di Amerika yaitu MacBook Air 13-inch keluaran tahun 2015.

Pengalaman Menggunakan MacBook Air 13-inch (Early 2015)
Sumber: arstechnica.com 
Sebelum post ini dilanjut, sebagai pengingat awal saja kalau aku ga akan menuliskan harga di post ini, karena udah terlalu banyak situs atau website di luaran sana yang mencantumkan harga laptop ini. Di postingan ini aku hanya akan membahas tentang pengalaman ku menggunakan Macbook Air 13-inch, apa saja yang bisa dilakukan dengan Macbook Air 13-inch, dan bedanya dengan laptop windows 7 atau versi lain sejenis itu apa.

Kenpa sih harus MacBook? Kan masih banyak laptop windows yang lebih oke daripada produk keluaran Apple?

Engga kok, ga harus macbook kok. Yang mau pake windows juga monggo. Emang bener banyak juga laptop dengan OS windows yang lebih oke daripada macbook. Tapi alasanku pake macbook ini karena kebutuhan mendadak. Terjadi begitu aja, kayak tiba-tiba pengin macbook, tapi bukan yang pro tapi macbook air karena aku penginnya punya laptop yang ringan, kapasitas baterainya juga oke dan jatuhlah pilihanku ke macbook air 13 inch 2015 ini.

Spek-nya kayak gimana sih MacBook Air 13-inch (Early 2015) itu?

Jujur, aku sendiri sebetulnya kurang paham dengan spesifikasi macbook air 13-inch keluaran 2015 ini secara explicit karena kembali ke poin pertama tadi, aku beli laptop ini terjadi begitu saja. alasan utama aku beli macbook ini hanya ada 2 dan sudah aku sebutkan di atas (yang penting baterai awet dan ringan dibawa kemana-mana) hehehe.

Tapi kalo kamu mau baca-baca tentang spesifikasi MacBook Air 13-inch (Early 2015) bisa dibaca di bawah ini:

Pengalaman Menggunakan MacBook Air 13-inch (Early 2015)
Sumber: id.priceprice.com
Untuk spesifikasi lainnya bisa dicari di webnya ibox atau apple langsung. Gaada yang spesial sih kalau dilihat dari spesifikasi di atas. Tapi menurut aku cukup oke kok buat dibeli.

Nah, terus masnya beli macbook air ini sepenuhnya cuma iseng doang? 

Engga dong, aku beli macbook air 13 inch 2015 ini sekira sebulan yang lalu, dan selama sebulan ini laptop ini aku pakai buat sosmed, main game, ngeblog, nulis nulis di ms office. Berikut screen shootnya.

Pengalaman Menggunakan MacBook Air 13-inch (Early 2015)
Buat main twitter
Pengalaman Menggunakan MacBook Air 13-inch (Early 2015)
Buat ngeblog
Pengalaman Menggunakan MacBook Air 13-inch (Early 2015)
Buat main game online
Sejauh ini, dengan beberapa aktivitas ku di laptop ini seperti yang udah aku sebutin di atas hasilnya gaada sama sekali kendala kayak baterai cepet abis, nge-hang atau yang lain sebagainya. so far so good sih.

Pengalaman Menggunakan MacBook Air 13-inch (Early 2015)
Buat dengerin musik
Oh iya, ada satu lagi yang bikin aku suka banget sama ini laptop selain masalah kapasitas baterai dan masalah berat dari laptop ini sendiri itu adalah masalah sound. Emang bener deh, macbook tuh kalau di-loudspeaker enak banget loh soundnya. Bagi yang suka ngerjain tugas sambil dengerin musik, ini laptop recomended banget sih.

Pengalaman Menggunakan MacBook Air 13-inch (Early 2015)
Beberapa aplikasi yang aku pake
Oh iya, buat yang mau hijrah dari yang dulunya masih pake windows, sekarang mau nyobain macbook bisa cari-cari aja referensi lengkapnya di youtube atau website-website lain yang ada komparasinya antara laptop yang ber sistem operasi windows dengan laptop yang bersistem operasi macOS.

Buat yang mau nanya nanya tentang laptop ini lebih lanjut bisa ditanyakan di kolom komentar. Pasti deh saya jawab secepetnya. Asalkan jangan tanya kapan nikah aja yaa. Terima kasih semoga bermanfaat.


Pengalaman ke Curug Cigentis, Karawang

Udah lama engga ngeblog dan ngetik-ngetik karena keadaan yang memaksa saya buat ga ngeblog a.k.a males :p. Tapi gaada kata murtad dari seorang Blogger, benar?

Liburan ini sudah cukup lama, namun baru bisa saya posting hari ini, alasannya sudah saya sebutkan di atas (dipaksa oleh keadaan). Sejak saya pindah dari proyek pertama saya, bisa dibaca di sini: Pengalaman Proyek Pertama: AEON Mall Jakarta Garden City, saya pindah ke sebuah Kota kecil di dekat Jakarta yaitu: Karawang. Selama saya di sini, saya jarang banget juga liburan, adanya kerja-kerja dan kerja. Alhasil inilah short escape saya yang pertama sejak saya dipindah tugaskan di Karawang ini. Yap, saya berlibur di sebuah curug (air terjun) di Kabupaten Karawang, Curug Cigentis.
Curug Cigentis
Curug Cigentis
Curug Cigentis
Pintu Masuk Curug Cigentis

Sebenernya Curug ini itu ga susah buanget diaksesnya, yang penting bawa kendaraan aja (saya rekomendasiin pakai motor saja) karena di sana mobil tidak bisa sampai lokasi. Mungkin 1km lagi baru sampai di lokasi. Tapi kalau kamu mau jalan sehat di daerah gunung juga gaada salahnya.

Curug Cigentis

Curug Cigentis

Curug Cigentis

Curug Cigentis

Curug Cigentis

Curug Cigentis

Saran saya sih kalau main kesini, bawa anak kecil boleh. Tapi jangan terlalu deket sama air terjun/curugnya. Soalnya ini Curug tinggi banget dan airnya kalau kena badan lumayan bikin sakit. Tapi curug ini recomended banget kok buat keluarga yang lagi pengin liburan.

Pengalaman Proyek Pertama: AEON Mall Jakarta Garden City

Pengalaman Proyek Pertama: AEON Mall Jakarta Garden City - Sebenernya udah pengin nulis ini dari lama-lama banget sih, cuma ditahan-tahan dulu karena emang kalau kita kerja di kontraktor itu sebenernya engga boleh sharing apapun tentang lingkungan di proyek. Alasannya cukup beragam: mulai dari owner yang engga mau diekspos lingkup kerjanya sampai dengan pihak kontraktor sendiri juga yang tidak mau rahasia dapur perusahaan menjadi makanan publik.

Nah berhubung saat ini proyek yang saya ikutin sejak lebih dari satu tahun yang lalu sudah Grand Opening 10 hari yang lalu, jadi sudah sah-sah saja saya publish dimana-mana seperti apa bentuk dahulunya hingga saat ini. (Btw tapi, saya ga bakalan sharing apapun tentang pekerjaan di sosial media yang saya cantumkan di blog ini. Saya cuma mau berbagi dalam bentuk data, tulisan, dan foto. Bukan hanya foto seperti di instagram. Ya karena emang lebih bagus kalau menurut saya di-share hanya lewat blog, soalnya kita bukan cuma berbagi foto, tapi kita bisa berbagi pengalaman dalam bentuk tulisan dan gambar).
Aeon Mall JGC
via: Internal Design
FYI: AEON Mall Jakarta Garden City ini adalah pusat perbelanjaan a.k.a Mall dengan nuansa Jepang ke-2 setelah AEON Mall BSD City yang terletak di Cakung Timur, Jakarta Timur. Dan akan disusul beberapa AEON Mall lagi nantinya dua diantaranya adalah: AEON Mall Sentul City, dan AEON Mall Deltamas.
Aeon Mall JGC
Informasi AEON Mall Jakarta Garden City - via: www.aeonmall.com
Kalau boleh cerita dikit gimana rasanya bisa jadi bagian pembangunan dari salah satu mall Jepang dengan amusement tenant (tempat hiburan) terbesar sampe ada ferrish wheel tertinggi di Indonesia saat ini, rasanya udah jauh dari kata bangga lah. Pokoknya seneng banget deh! terlebih lagi waktu grand openingnya aja pengunjung yang dateng itu lebih dari 100.000 orang. Boom! Gimana ga kegirangan coba? Yaa meskipun dulu saya awalnya disini jalannya berliku liku banget mulai dari dikatain yang jelek jelek dsb (bisa dibaca di sini: buat kamu yang punya mimpi kerja di kontraktor) tapi semua itu kebayar banget kok sama ilmu dan hasilnya.

Aeon Mall JGC

Aeon Mall JGC

Aeon Mall JGC

Aeon Mall JGC

Aeon Mall JGC

Aeon Mall JGC

Aeon Mall JGC

Engga semua foto saya taruh di sini yaa, kalau pengin tau lebih main-main kesini aja biar ada surprise-surprisenya gitu 😚. Yah mungkin itu aja sih yang bisa saya bagiin di postingan ini, semoga bermanfaat. Jangan lupa maen-maen ke tempat ini cause this place is cozy as hell! 

Rasanya Kerja di Kontraktor

Udah hampir 2 minggu saya ga update blog ini, bukan karena sibuk dengan kerjaan tapi jujur karena bingung mau nulis apaan. Tapi saya sudah berikrar juga kalau saya akan meng-update blog ini selambat-lambatnya hanya 2 minggu. Ide tuh mirip kayak temen, suka dateng terlambat. But, its better late than never

Dulu sejak pertama saya kuliah di Teknik Sipil Universitas Negeri Malang di tahun 2013, saya suka bingung kalau lulus mending kerja di Kontraktor atau di Konsultan (entah konsultan apapun itu, mau konsultan desain, struktural, atau yang lain terserah). Dan kemudian setelah lulus dari universitas takdir ternyata membawa saya untuk kerja di Kontraktor. 
via: www.youtube.com/88rising
Kalau dilihat dari jejak pendidikan, saya ini gaada pantes-pantesnya kerja di kontraktor karena: (1) basic saya bukan dari teknik sipil melainkan basic saya itu dari informasi dan teknologi a.k.a teknik komputer jaringan (bisa dibaca di sini: Mau masuk Jurusan Teknik Sipil tapi Basic kamu jauh berbeda?), (2) nilai saya di kampus juga ga bagus kalau dilihat dari IPK karena nilai saya cuma 3.23, (3) saya ga punya spesialis di bidang teknik sipil (itung-itungan saya ga suka, gambar-pun juga ga suka) mungkin saya hanya punya sedikit ketertarikan di metode pelaksanaan konstruksi saja dan itupun tidak semua metode konstruksi saya sukai contoh; saya suka metode konstruksi gedung, tapi saya ga suka metode konstruksi jembatan dan fly-over. Pun di gedung saya lebih suka kerjaan eksternal daripada internal contoh; saya lebih suka kerjaan yang hubungannya sama drainase daripada kerjaan pasang ceiling (langit-langit). Membosankan.

Cita-cita anak mahasiswa teknik sipil itu sudah bisa dipastikan sejak dini, menurut riset ngawur saya anak sipil itu cita-citanya; (32% wirausaha, 7% kerja di konsultan, 8% kerja di bank, dan 53% kerja di kontraktor). Riset ngawur saya di atas dapat berubah sewaktu-waktu dan tergantung dari tingkatan stress mahasiswa sipil yang bersangkutan ketika sudah bekerja di salah satu kategori perusahaan-perusahaan tersebut. Bisa jadi berubah seperti ini: (50% wirausaha, 10% kerja di konsultan, 12% kerja di bank, dan 28% kerja di kontraktor). 

Dari presentase di atas dapat disimpulkan bahwa, wirausaha mengalami kenaikan presentase dan menjadi pekerjaan idaman para mantan mahasiswa teknik sipil yang sudah menjadi karyawan di sebuah perusahaan kontraktor dan kemudian resign karena berbagai macam alasan seperti; udah males kerja panas-panasan, banyak pengaruh buruk, dilanda rindu karena kerja jauh dari keluarga, pengin dapet kerjaan baru yang sabtu dan minggu bisa libur, pengin dapet kerjaan baru yang jadwal pulang kerjanya teratur.

"Nah Terus kamu masuk golongan yang mana?" Katamu

Saya adalah orang yang sangat bersyukur bisa bekerja linear dengan jurusan kuliah saya. Banyak hal-hal yang dulu selama kuliah tidak saya ketahui bisa menjadi tahu bahkan bisa sampai mengerti. Banyak hal-hal yang saya pelajari dari nol di perusahaan ini, banyak teman-teman baru, lingkungan yang selalu baru dan jujur memang cita-cita saya sejak kecil adalah bekerja di kontraktor. Saya masuk dalam kategori tersebut. Namun, apakah lantas saya bahagia sepenuhnya?

Ya! saya bahagia, dan saya sangat bahagia! bisa bekerja di perusahaan yang saya impikan memang merupakan sebuah mimpi yang menjadi nyata bagi saya. Namun, ada satu poin dimana saya sedikit tidak menyukai ketika bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan konstruksi yang paling utama adalah karena bekerja jauh dari keluarga.

Yap! apapun itu, keluarga bagi saya adalah yang paling nomor satu. Mungkin sedikit kedengaran cengeng bagi anak cowok dan agak klise namun fakta dan jujur dalam hati saya adalah keluarga merupakan prioritas saya. Bagi saya ada banyak sekali perusahaan di luar sana, namun keluarga hanya ada satu. Meskipun saya masih belum berkeluarga, namun saya punya orang tua dan dua saudara saya yang entah kenapa sangat sulit sekali untuk tidak bertemu dengan mereka dalam waktu yang sangat lama.

Keluarga adalah Prioritas.

Tips Memilih Rumah Idaman di Kawasan Perkotaan

Memiliki rumah idaman dengan kualitas yang benar-benar nyaman bagi keluarga bukan perkara mudah. Terlebih saat ini udah banyak banget Developer di Indonesia yang hampir setiap bulan kerap kali saya temui di pusat-pusat perbelanjaan untuk mempromosikan hunian-hunian yang mereka tawarkan kepada calon konsumen. Bagi yang punya banyak uang tentu bukan perkara sulit untuk membeli dan menjualnya lagi namun, bagi pemuda-pemudi (millenials) yang sedang memulai dan meniti karir di Kota, hal ini merupakan hal yang cukup membuat beberapa orang bingung bagaimana caranya memiliki rumah yang nyaman untuk ditinggali seterusnya, kriterianya bagaimana, dan tips memilih rumah idaman di kawasan perkotaan itu seperti apa.
Tips Memilih Rumah Idaman di Kawasan Perkotaan
Hasil Render Sketchup karya Ryan - via: www.facebook.com/rian.chandrawirata
Rumah idaman tidak memiliki definisi pasti karena setiap orang punya pengertian yang berbeda-beda untuk hal tersebut, tapi secara umum rumah idaman dapat diartikan sebagai rumah yang aman dan nyaman baik dari segi fisik maupun lingkungan di sekitarnya. Kalau dibaca sepintas kayaknya susah banget dapetin rumah yang seperti itu, terlebih lagi di kawasan perkotaan yang rasanya tempat tinggal paling idaman adalah di kawasan cluster, real estate atau apalah itu yang harganya bermilyar-milyar rupiah. Nah, sedangkan para amatir yang datang dan baru saja kerja beberapa tahun di kota pasti cuma punya duit sedikit, dan kalau sudah terkotak-kotak seperti itu apakah para amatir seperti saya ini tidak bisa punya rumah idaman di kota?

Yuk! Kita ulas lebih dalam lagi....

Banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk memilih rumah idaman di kawasan perkotaan versi saya, diantaranya adalah:
  • Rumah tersebut memiliki lokasi yang strategis - Setiap orang pasti pengin banget punya hunian yang dekat dengan tempat-tempat yang menunjang aktivitas sehari-hari seperti pasar, tempat ibadah, sekolah, dan kantor. Engga banget kan kalau udah rumahnya bagus, nyaman tapi buat ke pasar aja harus naik angkot dan oper beberapa kali. Hih.
  • Rumah harus aman - Maksud dari kata-kata aman disini bukan berarti kamu harus nyewa sniper buat ngintai tempat kamu tinggal, kali-kali aja ada orang yang mau jahatin. Engga, ga harus seperti itu. Berlebihan. Rumah yang aman itu seenggaknya adalah rumah yang berada di lokasi atau kawasan yang struktur organisasinya jelas dan bergerak; contoh: setiap RT punya pos kamling/pos jaga yang memang setiap (setidaknya malam hari) pos tersebut difungsikan untuk berjaga-jaga. 
Tips Memilih Rumah Idaman di Kawasan Perkotaan
Desain pos jaga karya Sigit Wijiono - www.sigitwijionoarchitects.blogspot.com
  • Rumah harus hijau - Siapa sih yang ga pengin rumah yang adem luar-dalem? kalau emang lingkungannya ga mendukung penghijauan, seenggaknya rumah sendiri yang diademin. Bisa banget kok bikin taman-taman kecil yang didepannya cuma ada satu pohon tetapi setidaknya pohon yang ditanam di depan rumah tersebut rindang. Ga perlu gede dan tinggi menjulang, yang penting rindang. Pohon yang rindang tapi ga gede itu ada beberapa misalnya: pohon jambu air/pohon belimbing yang lebih cocok ditanam di depan rumah daripada pohon randu.
  • Rumah ga perlu berlantai-lantai, 1 lantai saja cukup yang penting jarak antara level lantai dan level ceiling (langit-langit) cukup tinggi. bisa 3.7 meter - 4 meter. Hal ini penting banget teman-teman apalagi yang berniat memang ingin mempunyai hunian di perkotaan, adanya jarak yang tinggi dari level lantai ke langit-langit ini lebih memungkinkan sirkulasi udara yang lebih baik daripada rumah yang sampai 3 lantai tapi jarak antara muka lantai terhadap langit-langit hanya 2.7 meter atau kebawah. Sirkulasi udara yang baik, akan membuat ruangan terasa lebih dingin.
Tips Memilih Rumah Idaman di Kawasan Perkotaan
via: www.3docean.net
  • Rumah yang nyaman menurut saya adalah rumah yang letaknya tidak bersinggungan langsung dengan jalan raya atau jalan lokal namun besar yang notabene bukan merupakan jalan raya namun seringkali dilalui oleh para pengemudi truk, mobil dan pengendara sepeda motor. 
  • Rumah yang nyaman memiliki lingkungan yang bersih. Di sini saya memposisikan diri saya sebagai orang dari desa yang datang ke kota besar, dan saya seringkali melihat perkampungan atau perumahan yang lingkungannya kurang sehat. Selokannya macet, banyak kecoa di jalanan, banyak tikus juga. 
  • Rumah idaman adalah rumah yang tata pencahayaan setiap ruangannya bagus. Selain tata udara, tata cahaya juga merupakan hal yang sangat amat penting, karena rumah yang terang dan setiap ruangannya dapat dengan mudah dijangkau oleh cahaya matahari adalah rumah yang baik. Terlebih lagi di kota-kota besar seperti Jakarta yang memiliki populasi penduduk yang sangat tinggi dan rumah-rumah penduduk saling berdempetan. Hal tersebut harus disiasati dengan jeli oleh sang pemilik rumah apabila ingin rumahnya mendapatkan pencahayaan yang bagus dari matahari.
Kembali ke pengertian di awal tadi bahwa rumah idaman tidak memiliki definisi pasti karena setiap orang mempunyai karakteristik dan pengertiannya masing-masing. Namun dari saya pribadi, rumah idaman adalah rumah yang memang benar-benar nyaman dan aman dari segala hal. Lupakan ukuran. Rumah idaman bukanlah tentang ukurannya, tapi tentang tata kelola rumah tersebut beserta lingkungannya. 

Pengalaman Menggunakan Kamera Mirrorless Sony a5100

Sesuai dengan komitmen saya di postingan saya sebelumnya mengenai paket yang tidak kunjung dikirim oleh pihak JNE akan saya lanjutkan di sini. Kenapa saya ngebet banget pengin paket saya datang di hari sabtu adalah, agar saya dapat mencobanya langsung di hari minggu karena hanya di hari tersebut saya dapat jalan-jalan di Jakarta. Dikarenakan JNE tidak sesuai dengan komitmen mereka, maka dengan terpaksa saya hanya bisa mencoba paket saya ini hanya di sekitaran komplek dan di proyek saja. Paket tersebut isinya adalah kamera mirrorless Sony a5100.
Pengalaman Menggunakan Kamera Mirrorless Sony a5100
Kardus Sony a5100
Awalnya saya engga tau menau ya soal kamera mirrorless, dan saya termasuk menjadi salah satu anak yang telat gaul karena saya sejak dulu hanya memiliki sebuah kamera DSLR saja di rumah dan itupun kepunyaan kakak saya. Jadi, saya di sini hanya sebagai seorang amatir yang berbagi pengalaman saja tentang pemakaian Sony a5100 saya ini yang sudah saya gunakan hampir seminggu. Jadi kalau ada yang tanya teknis banget, mending kamu cari website lain deh yang lebih detail dalam review ini.

Dari yang saya kutip melalui website kompas, kamera mirrorless adalah kamera "tanpa cermin" atau dapat dijabarkan sebagai kamera DSLR yang dihilangkan bagian pemantul cahayanya (mirrorbox) nya. 
Pengalaman Menggunakan Kamera Mirrorless Sony a5100
via: www.tekno.kompas.com
Jadi dari keterangan dan gambar yang ada, sudah bisa dilihat perbedaannya. Yap, kalau DSLR lebih gede, kalau mirrorless lebih mini. Hal itulah yang menjadikan salah satu alasan terbesar saya mengapa saya membeli sebuah kamera mirrorless. Karena lingkungan saya yang lebih banyak di lapangan dan di kantor, jadi ketika sewaktu-waktu saya pergi ke lapangan saya engga perlu repot-repot bawa DSLR yang super ribet dan menurut saya ga eye-catching juga sih kalau di bawa ke lapangan. Takutnya tukang dan mandor yang ada di lapangan nanya "emang mau buka studio foto pak?" oke. Studio foto.

"Kalau takut ribet kenapa ga bawa kamera pocket aja yang lebih simpel dan kecil?" Katamu.
"Nganu mbak..." 

Bukan karena sombong atau apa ya, kamera mirrorless itu menurut saya dan mayoritas orang-orang di luar sana, sudah bilang kalau kualitas dari jepretan mirrorless itu hampir mendekati DSLR. Jadi, daripada saya beli kamera pocket yang kalau di zoom-in dikit langsung ngeblur, kenapa saya ga beli yang gedean dikit tapi kualitasnya oke juga. Iya kan?

Pengalaman Menggunakan Kamera Mirrorless Sony a5100
Tampak sony a5100 dari beberapa sudut
Kamera ini cukup mungil, tapi jangan sekali-kali dikantongin, karena emang ga bakal muat buat dikantongin. Kecuali ukuran celana kamu seukuran sama celananya Yao Ming. Kamera ini juga enteng banget dan genggam-able. Jadi, buat kamu yang gaada gandengan dan gaada tangan yang digenggam mending beli kamera ini deh, biar ada yang nempel di telapak tangan kamu.

Sebetulnya ada beberapa kamera Mirrorless produksi dari Sony juga yang saya minati selain Sony a5100 yaitu, Sony a5000 dan Sony a6000. Alasan saya kenapa milih Sony a5100 daripada Sony a5000 adalah karena menurut hasil survey saya melalui website www.versus.com, Sony a5100 lebih unggul daripada Sony a5000. Ya meskipun dari segi kualitas juga akan mempengaruhi harga, tapi oke lah menurut saya untuk tetap dijadikan pilihan utama.

Kemudian, mengapa saya lebih memilih kamera Sony a5100 daripada Sony a6000, bukan karena saya engga mampu beli, tapi karena saya engga suka sama bentukannya. Agak aneh menurut saya. Ya meskipun dari website manapun yang mereview keduanya, dan pilihan mereka jatuh pada Sony a6000, tapi saya punya alasan sendiri untuk tetap milih Sony a5100. 
Pengalaman Menggunakan Kamera Mirrorless Sony a5100
Kiri Sony a5100 & kanan Sony a6000 via: www.youtube.com
Dari segi fitur dan body, memang lebih keren Sony a6000 sih kalau di lihat dari blog ini, tapi pas dilihat langsung, Sony a6000 ini body-nya lebih gede, ga genggam-able dan banyak tombol, terlebih lagi yang paling engga banget menurut saya di kamera Sony a6000 itu ada mirror box yang sedikit agak nongol kebelakang, jadi itu penyebabnya kenapa saya lebih milih Sony a5100 yang dari tampilan dan performa cukup menunjang untuk keseharian saya di kantor dan di lapangan. 

Anyway, buat yang belum tau apa aja fitur yang ada di dalam Sony a5100 ini antara lain adalah: 24.3 Megapixel camera dengan sensor APS-C, layar sentuh (hanya untuk menentukan titik fokus sebelum membidik) tapi okelah menurut saya, lensanya bisa diganti, layarnya bisa diputar 180 derajat, ada wifi, NFC, dsb.

Sedangkan untuk kekurangannya kalau menurut saya cuma ada satu, yaitu: baterainya cepet abis. Udah itu aja.

Untuk beberapa foto yang udah saya ambil ada di bawah ini, fotonya saya ambil pas lagi istirahat dan pas lagi di lapangan:

Pengalaman Menggunakan Kamera Mirrorless Sony a5100
Grand opening AEON Mall
Pengalaman Menggunakan Kamera Mirrorless Sony a5100
Lagi di lapangan
Pengalaman Menggunakan Kamera Mirrorless Sony a5100
Lagi nongkrong
Pengalaman Menggunakan Kamera Mirrorless Sony a5100
Saya belom mandi
Pengalaman Menggunakan Kamera Mirrorless Sony a5100
Temen saya udah mandi
Pengalaman Menggunakan Kamera Mirrorless Sony a5100
Ini saya engga tau pas lagi mikir apa
Pengalaman Menggunakan Kamera Mirrorless Sony a5100
Foto terakhir
Di atas adalah bidikan amatir yang baru seminggu pake Sony mirrorless a5100, dan hasilnya gimana menurut kamu? semoga postingan ini bermanfaat buat semua yang lagi bingung milih-milih kamera baru. Buat yang pengin sharing juga bisa kok komen-komen di bawah. C you! 

Top